Langsung ke konten utama

2 juta

Ternyata 2 juta tidak cukup untuk membeli ketenangan jiwa. tidak cukup untuk menyumpal mulut seorang wanita. tidak cukup untuk menghentikan air mata. tidak cukup untuk menjamin besok kau bisa tertawa. bahkan tidak cukup untuk mengklaim sepasang sepatu sebagai milikmu seutuhnya. ya, 2 juta tidak mampu membawa kakimu untuk berjalan diatas sepatumu sendiri bukan?

suatu hari kau harus berpisah dengan apa yang sekarang bisa kau nikmati. dinding, pintu, jendela, lemari dan tempat tidur ini harus kau tinggal pergi nanti. pun 'si hitam manis' kesayanganmu itu. segala yang kau cintai bukanlah milikmu. 2 juta tidak cukup untuk itu.

2 jutamu itu tidak mampu menjadi rumah apalagi istana pun taman berbunga. dia hanya menghasilkan serapah dan racun saja. sekarang kau merasa hampir kiamat karena 2 jutamu tidak jadi apa-apa bukan?

haha...hidup ini memang selucu dagelan. dan, kaulah cameonya. dalam kisah ini si antagonislah yang menang karena protagonis serupa malaikat hanya ada di langit sana. 2 juta membawamu ke jalan buntu sekarang. marahlah! bahkan 2 juta tidak cukup untuk membeli hakmu untuk marah.

kau bukan siapa-siapa, bukan apa-apa. 2 juta bahkan tidak mampu memberimu identitas apalagi kuasa. mati sajalah! 2 juta bisa berada pada pilihan kehilangan atau menghilangkan nyawa seseorang, 2 juta bisa membuatmu gila, kan?

kau hanya bertanya, kenapa bukan dia yang menaggung derita? biar kujawab saja, 'memangnya kau tega?' 2 juta tidak memeberimu secuilpun keberanian untuk melawan ketidakadilan. kau tidak sanggup melihat orang lain berduka, bukan? itulah sebabnya si antagonis selalu bisa memenangkan pertandingan. sekarang kau tahu, ini bukan tentang 2 atau berapa juta pun jumlahnya. ini hanya tentang dirimu yang pengecut saja. 

...

catatan yang belum selesai, pwk, 9 Maret 2016 (dimana gerhana matahari total berlangsung dipagi hari tapi 'kegelapannya' terasa di sore hari)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kepada: Para Pejuang Skripsi

To: para pejuang skripsi seantero negeri Skripsi seolah menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian mahasiswa. Padahal, semua tahu kunci untuk membuka pintu kelulusan adalah skripsi. Dalam beberapa kasus, banyak mahasiswa yang tumbang karena kalah dalam pertarungan terakhir mereka ketika bergelut dengan skripsinya. Ada juga yang pantang menyerah dan terus berjibaku menyelesaikan pertarungannya hingga bertahun-tahun belum lulus juga sampai akhirnya dijuluki mahasiswa abadi. Ada apa dengan skripsi? Melalui tulisan ini saya akan mengulas sedikit tentang masalah skripsi sekaligus berbagi tips dan motivasi yang mudah-mudahan bisa menginspirasi. Pertma saya akan membahas tentang kesulitan yang dialami mahasiswa. Masalah klasik para pejuang skripsi tersebut antara lain sebagai berikut: 1. Ngaku aja deh kalau kalian pernah ngalamin yang begini: Mahasiswa: Pak, besok bisa bimbingan? Dosen: *read doang Atau begini: Mahasiswa: Pak, hari ini ada di kampus tidak? Dosen: ada sampai jam 11 ...

rumah kita

ketika lelah, ketika sedih, ketika tidak tahu tempat untuk kembali atau kemana harus menuju, rumah selalu menjadi jawabanmu. yang paling dirindu, itulah rumahmu. tapi ketika rumah bukanlah milikmu, ketika itulah kau merindukan rumah yang baru atau bahkan rumah lamamu. ... suatu hari jika tuhan mengijinkan takdirku bertaut dengan takdirmu, hatimulah yang akan menjadi rumahku. rumah kita akan menghadap ke arah kiblat. di dalamnya ada ruangan untuk sholat. berjanjilah kau akan berdiri di depan, memimpin do'a di sepertiga malam. do'a yang akan aku aamiinkan dari belakang. aku harap rumah kita selalu hangat dengan suguhan kopi kesukaanmu atau seduhan teh kesukaanku. dapur kita akan jadi semacam labolatorium ekperimen resep-resep di bukuku, maka bersiaplah jadi kelinci percobaanku :D enak atau tidak aku yakin kau tahu itu bukan hal yang utama. canda tawa dan cinta, itulah bumbu yang pasti akan paling terasa. syukuri saja apa yang terhidang di meja, ya :) ketika kau tidak ada...

'Tujh main Rabb dikhta hai'

Berembun mataku tiap kali mengingatnya. Seseorang yang menyalakan langit kelabuku dengan warna cahayanya. Sang pemilik senyum matahari. Dan, di saat yang sama mata rembulannya mampu meneduhkan segala penat dan risau. Hitam putih hidupku menjadi berwarna olehnya. Musim gugur dan musim dingin diisinya dengan semi. Dia, lelaki biasa. Jauh lebih biasa dari sekedar biasa. Lebih sederhana dari yang paling sederhana. mengenangnya aku selalu berkaca-kaca.  Peliknya hidupku tak seberat beban yang dipikul bahunya selama puluhan tahun. Dia hanya 'rakyat jelata' yang tak pernah sepintas pun memimpikan jadi raja. Jemarinya yang kasar dan kulitnya yang terbakar, bagiku itu adalah ukiran terindah yang dipahatkan tuhan. Hingga hanya aliran do'a yang bisa kusembahkan seraya mencium tangannya. Tangan yang mulia, seperti kata nabi. Sedikit sekali yang dia miliki. Sedikit sekali dibanding apa-apa yang kumiliki namun luput dari kusyukuri selama ini.  masih banyak mimpi yang belum bisa aku wujud...