‘Tak...Tak...Tak...’ Dentang waktu terasa berat membebani kepalaku. Pukul 24.00. inilah saatnya aku mengambil pertolongan. Benda itu tersimpan di laci meja. Aku telah membungkusnya dengan kertas koran dan kuselipkan dalam buku pelajaran. Mereka tidak boleh tahu obat apa yang aku minum sebagai pesakitan dua tahun belakangan. ‘Brak..Brak..’ Buku-buku berjatuhan, benda-benda keluar berhamburan dari mulut laci. Tak satupun yang kupungut kembali, memang mereka sengaja ku obrak-abrik. Hanya satu yang kucari yaitu obat sakit kepalaku ini. Hanya itulah satu-satunya yang mampu meringankan berat kepalaku yang menyesak seakan mau meledak. Tidak. Aku tidak mau rasa sakit ini menjalar ke seluruh tubuh. Aku sangat tahu bagaimana rasanya jika penawar itu tak bisa aku temukan sekarang juga. Tidak. Aku tidak boleh diam saja. *** ‘akh...’ Aku melangkah terseok-seok menapaki lorong itu. jalan setapak yang selalu aku lewati sejak 2 tahun lalu. Di sinilah aku berkenalan dengan benda itu...