Langsung ke konten utama

Postingan

Dentang waktu

‘Tak...Tak...Tak...’ Dentang waktu terasa berat membebani kepalaku. Pukul 24.00. inilah saatnya aku mengambil pertolongan. Benda itu tersimpan di laci meja. Aku telah membungkusnya dengan kertas koran dan kuselipkan dalam buku pelajaran. Mereka tidak boleh tahu obat apa yang aku minum sebagai pesakitan dua tahun belakangan. ‘Brak..Brak..’ Buku-buku berjatuhan, benda-benda keluar berhamburan dari mulut laci. Tak satupun yang kupungut kembali, memang mereka sengaja ku obrak-abrik. Hanya satu yang kucari yaitu obat sakit kepalaku ini. Hanya itulah satu-satunya yang mampu meringankan berat kepalaku yang menyesak seakan mau meledak. Tidak. Aku tidak mau rasa sakit ini menjalar ke seluruh tubuh. Aku sangat tahu bagaimana rasanya jika penawar itu tak bisa aku temukan sekarang juga. Tidak. Aku tidak boleh diam saja. *** ‘akh...’ Aku melangkah terseok-seok menapaki lorong itu. jalan setapak yang selalu aku lewati sejak 2 tahun lalu. Di sinilah aku berkenalan dengan benda itu...

Hujan Air Mata

Kami merindukannya. Tanah, pohon, bahkan udara menantikan kehadirannya. Terasa kering bumi ini tanpa keberadaanya. Berbulan-bulan kami mengharapkan kedatangannya. Istiqosah lah jembatan kami satu-satunya. Semoga hujan segera menyiram alam, menyuburkan tumbuh-tumbuhan. Dan, menyapa tanah merah pekuburan warga yang meninggal karena kekeringan dan kelaparan akibat kemarau panjang. Kami harap air hujan dapat menggantikan air mata. atau, jadikanlah air mata ini sanggup memadamkan api neraka. Karena tetesan bening ini kami alirkan ke muara cinta. Desa kami tenggelam dalam duka . Akhirnya hujan turun juga dari mata para warga. ... FF Nenknonk yang gagal lolos kompetisi nulis :D

Impian Sang mempelai

Dingin air yang menyiram tubuh Ratna sesaat yang lalu terasa sedingin hatinya kini. Pikirannya buntu membeku. Ratna terpaku. Beberapa hari yang lalu Ratna tiba di kampung halamannya, desa Garokgek, Subang. Sebuah tempat terpencil yang terasing dari akses jalan raya. Desa ini hening saat Ratna meninggalkannya 6 tahun lalu untuk menjalani pendidikan di kota Bandung. Tidak banyak anak-anak desa ini yang seberuntung dia yang memiliki kesempatan bersekolah dan bisa melihat dunia luar. Kebanyakan dari mereka putus sekolah dan berakhir menjadi petani seperti orang tua mereka. Harapn mereka terbenam dalam lumpur hitam tanah sawah. Impian adalah sesuatu yang muluk-muluk bagi warga desa. Namun, Ratna berhasil mendobrak keadaan. Ia berani berangkat ke kota meluluskan keinginan orang tuanya untuk merubah nasib mereka. Mereka berharap Ratna bisa menjadi orang yang berakhlak kelak. Ratna pun masuk ke sebuah pesantren modern dengan bekal seadanya saja.  Namun, di sanalah kedewasaan dan pol...

TOKO KEMATIAN

Pada suatu hari di masa resesi... Jalan raya ramai sore itu. kabut asap dan debu bercampur jadi satu. Bising kendaraan dan suara fals pengamen jalanan beradu tak menentu. Ratusan kepala bertebaran di seluruh penjuru kota. Kehidupan seperti tidak akan berakhir walaupun matahari hampir tenggelam di barat langit. Qodri berjalan lesu. Tiga tikungan dan satu perempatan sudah ia lalui namun, ia belum berhenti. Ia masih tekun mengikuti gerakan kakinya yang semakin melambat karena kelelahan. Ia berkonsentrasi penuh pada ujung sepatunya yang sudah tak berbentuk. Sia-sia saja. Sekalipun bisa terus berjalan, ia tetap tidak akan sanggup mengejar laju kehidupan. Ia bahkan merasa tidak sanggup bertahan. Hakikatnya kehidupanlah yang terus berjalan, tapi ia tidak. Qodri sudah tamat. Kehidupannya seolah terbenam bersama matahari sore itu. Setiap matahari terbit di pagi hari, harapan qodri pun terbit. Berkilo-kilo jarak ia tempuh untuk menggantungkan harapan. Bermil-mil jalan ia lalui tuk kepa...

Diam

Lama kita terdiam Pada bilangan rindu Di sela baris kebencian Sama-sama bungkam Memeluk udara Menghitung jeda Ada sarang laba-laba Di sudut hati yang tak tersentuh cinta Ada karat Di sisi jiwa yang terkontdminasi benci Ada udara hampa Mengambang diantara keduanya Sampai kapan? Kita sama-sama diam Kita setia Pada bisu yang mencekam.

Rindu di mata itu

Turun dari kendaraan mewah milik keluarga, Nenknonk melangkahkan kakinya di tanah becek sebuah desa. Diantara rombongan keluarga, penampilan Nenknonk Kala itu paling sederhana. Entah karena salah injak atau apalah, tiba tiba air kubangan menciprati pakaiannya. Padahal, ia sedang dalam perjalanan menghadiri sebuah pesta pernikahan. Ah, biarkan saja. Nenknonk bukanlah tipe orang yang care terhadap penampilan. Jadi, setitik debu atau bahkan seempang kubangan yang mengotori pakaiannya sekalipun tidak akan ia pedulikan. apalagi yang dituju adalahh pernikahan adik sepupunya sendiri. Semua yang datang pastinya keluarga dan kerabat. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. seluruh keluarga sudah sangat tahu mengenai kecuekan nenknonk ini. Di rumah yang dituju, paman bibi, keponakan dan sepupu sudah berkumpul. Sepertinya rombongan keluarga Nenknonk datang paling akhir ke acara itu. resepsi pernikahan yang sanagt sederhana. Penyelenggaranya adalah sepupu nenknonk dari keluarga yang juga sederhana...

Mati

Beritahu aku cara termudah menjemput kematianku! Beritahu aku cara termudah mengubur mimpiku! Realita yang kunikahi Memutus benang merahku dengan mimpi Sebuah harga mati Memaksaku bunuh diri Maka, beritahu aku cara termudah untuk berhenti bermimpi! Bangunkan aku esok pagi! Pwk, 010613 Ditulis sesaat setelah racun tertenggak.