Langsung ke konten utama

Dentang waktu


‘Tak...Tak...Tak...’
Dentang waktu terasa berat membebani kepalaku. Pukul 24.00. inilah saatnya aku mengambil pertolongan. Benda itu tersimpan di laci meja. Aku telah membungkusnya dengan kertas koran dan kuselipkan dalam buku pelajaran. Mereka tidak boleh tahu obat apa yang aku minum sebagai pesakitan dua tahun belakangan.
‘Brak..Brak..’
Buku-buku berjatuhan, benda-benda keluar berhamburan dari mulut laci. Tak satupun yang kupungut kembali, memang mereka sengaja ku obrak-abrik. Hanya satu yang kucari yaitu obat sakit kepalaku ini. Hanya itulah satu-satunya yang mampu meringankan berat kepalaku yang menyesak seakan mau meledak.
Tidak. Aku tidak mau rasa sakit ini menjalar ke seluruh tubuh. Aku sangat tahu bagaimana rasanya jika penawar itu tak bisa aku temukan sekarang juga. Tidak. Aku tidak boleh diam saja.

***

‘akh...’
Aku melangkah terseok-seok menapaki lorong itu. jalan setapak yang selalu aku lewati sejak 2 tahun lalu. Di sinilah aku berkenalan dengan benda itu. maka, ke sinilah aku menuju. Apapun yang terjadi padaku, mereka yang bersembunyi d ujung lorong itu harus menolongku.
‘bruk..”
Aku terjatuh. Rupanya aku bertabrakkan dengan seorang pria berpenampilan asing. Wajahnya kemilau seperti cahaya purnama di langit malam ini. Pakaiannya putih bersih. Ia menyandang sebuah kitab suci. Ah, apa peduliku memperhatikan orang itu. dia hanya menghalangi jalanku.
Tangannya meraihku. Terasa hangat. Tapi segera kutepis. Butiran bola-bola kecil berhamburan dari jemarinya. Sekali lagi aku tidak peduli. Aku harus bergegas melanjutkan perjalananku. Tidakkah ia tahu betapa sakit seluruh tubuhku?
Aku mendorong tubuh yang mendekat itu. sesuatu berhasil kurebut dari genggamannya. Aku pun lari denagn tenaga seadanya. Dia tidak mengejar. Sebuah keganjilan yang tidak perlu aku pertanyakan. Yang penting aku bisa bebas.
Dingin menggigilkan tubuhku. Tusukan angin malam mengipasi luka. Perih terasa. Aku bisa kejang-kejang. Namun di ujung lorong, yang pintunya kelam itu, aku bisa memperoleh sebuah kenikmatan. Aku bisa terbang ke nirwana meninggalkan bumi yang penuh luka dan derita.
Sedikit lagi. Tinggal sejengkal.

***

Aku bangun di jalan setapak yang tidak pernah aku lalui sebelumnya. Tubuhku segar sekali, tak terasa sakit lagi.  Ini sudah pagi. Pasti aku sudah melewati pintu itu dan sudah memperoleh obat penawarnya. Sekarang aku berada di sebuah surga.
Di kiri dan kanan jalan hanya ada rumput hijau. Mataku tak kuasa menatap, mungkin karena terlalu lama menetap dalam kegelapan. Tidak ada seorang pun di sana kecuali aku saja. Hanya aku dan sebatang pohon di ujung pandangan mataku.
“Tempat ini yang asing atau aku yang asing di tempat ini ?” Tanyaku pada diri sendiri.
Semua yang ada di sini cerah dan sejuk. Langit biru berawan putih gulung-menggulung. Rumput hijau, tanah lapang dan angkasa luas. Sementara aku lusuh dan kumal. Sungguh tak sepadan dengan tempat ku tinggal.
Aku berjalan ke pohon yang hanya ada satu-satunya itu. aku hendak berbaring menikmati surga keindahan ini.angin berhembus perlahan menyapa menghantarkan sebuah suara.
“ikut aku !”
“apa ?” Aku tersentak dari mimpi yang baru saja kurajut.
Seekor burung kecil berwarna kuning keemasan memandangku seolah sedang menyuguhkan senyuman.
“ikut aku !” Pintanya.
“Hah..?” aku heran. Ia bisa bicara.
Seolah menuntun tanganku, ia terbang ke ketinggian angkasa.
Ketika aku menundukkan kepala. Tanah merah dan rumput hijau tak lagi kupijak. Aku terbang. Di sisiku si burung kecil terus bersuara. Ia melantunkan nada yang indah memuji kebesaran tuhan., tapi kali ini dengan bahasa burung yang tidak dapat aku jabarkan.
Ia menggiringku membelah angkasa melewati belantara hutan dan miniatur kehidupan di atas muka bumi, di bawah kakiku ini.
“Aku terbang !” Teriakku dalam hati dengan penuh kebanggaan.
Tidak ada satu manusia pun yang sanggup terbang tanpa sayap dan bantuan apaun selain aku.
“Aku hebat.” Pikirku.
Di sebuah tanah pesawahan si burung kecil menurunkan kecepatan. Ia terbang rendah. Aku menatap enggan ke bawah.
“Buat apa turun  jika sudah di atas?” Pikurku lagi.
Seakan memahami , burung kecil itu menarik tanganku hingga aku kehilangan keseimbangan kemudian jatuh terjerembab ke dalam lumpur pesawahan.
Aku bangkit hendak mengumpat saat ku lihat Papa berdiri di tengah sawah., memegang cangkul sambil mengelap keringat. Matahari sudah tinggi. Sinarnya terasa panas hingga lumpur di badan mengering dengan cepat.
“Saya bekerja supaya anak dan istri saya bisa makan, kebutuhannya tercukupi dan bisa tidur nyenyak. Supaya hidup mereka terjamin. Supaya anak saya bisa mendapatkan pendidikan, sekolah yang tinggi dan menjadi orang besar. Nanti hidupnya makmur. Nasibnya  harus lebih baik dari saya yang Cuma petani kampung.” Kata Ayah seolah sedang menjawab sebuah pertanyaan yang diutarakan si burung kecil. Entah sejak kapan mahluk kecil itu berada di dekat papa.
Apapun yang dikatakan Papa, pandanganku terhadapnya tidak akan berubah.
“Papa tidak mungkin sepeduli itu terhadapku, anaknya. Dia selalu berada di kantor, meeting dengan rekan, makan di luar, pergi pagi pulang malam, menghilang berhari-hari, menginap di luar kota, berpergian ke luar negeri, dan....”
“Dan berusaha menghidupi keluarganya.” Burung kecil itu memotong pembicaraanku. Kini ia berdiri di pundakku sambil meneruskan senandungnya. Kami terbang lagi ke langit. Ucapannya masih terpatri sempurna di kepalaku.

***

Tidak pernah terlintas sedikitpun di kepalaku sebuah pertanyaan, ‘Apa yang sebenarnya sedang berlangsung ?’ sebab sejauh ini aku hanya tahu ini surga. Tempat terindah yang hanya ada dalam imajinasiku saat menelan obat sakit kepala itu.
Sekarang, mama lah yang aku lihat ketika kami turun lagi. Ia sedang menangis di sebuah kamar gelap. Tangisan pilu yang menyayat kalbu.
“Anak saya sakit. Saya melarangnya minum obat. Kasihan dia. Sendirian, dia pergi dan tidak kembali lagi.”
Aku tertawa terbahak-bahak.
“Mamaku tidak pernah menangis. Dia cerewet dan selalu marah-marah.” Ujarku.
Kembali si burung kecil melayang ke arahku seraya melontarkan sebuah jawaban.
“Itu karena selama ini tangisnya tak terdengar dan air matanya tak terlihat.”
Aku terdiam.
Tiba terdengar lagi detak jarum jam itu. tidak, bukan itu. melainkan detak jantungku. Satu...satu...satu...lalu berhenti.

***

Untuk kedua kali nya aku terbangun. Kali ini di tanah kering dan tandus. Kali ini akupun bertanya, “Di mana aku ?”
Si burung kecil  datang lagi, menghampiriku lalu menjawab pasti, “Di bulan.”
“Hah...” Aku tersentak tanpa sedikitpun terbersit rasa bangga bahwa aku bisa mnenginjakkan kaki di bulan. Aku segera bangkit. Sekarang aku dapat melihat dengan jelas bumi yang bulat padat kebiru-biruan melayang di depan mata. Si burung kecil terbang riang, pergi meninggi.
‘Tak..Tak..Tak..’
Dentang waktu itu lagi. Serentak tanah yang kupijak bergetar hebat. Pemandangan di depan mataku buyar. Tidak. Bumi yang indah itu hancur beratakkan seperti di hantam palu maha besar. Pandanganku pun memudar. Tidak, aku salah mengira lagi. Sumber cahaya  alam lah yang tiba-tiba redup dan akhirnya padam.
“TIDAK !!!” Teriakku detik itu juga.
Tangan-tangan entah siapa menarik-narik sekujur tubuhku. Aku merasa kesakitan dalam kegelapan yang begitu pekat. Terlintas di benakku perkataan mama dan papaku. Terngiang di telingaku senandung merdu si burung kecil itu. dan, terbayang olehku syurga indah yang kuimpikan sejak dulu. Akankah semua berakhir seperti ini ?
“Papa...Mama...Tuhan...” Aku berseru, “ Bawalah aku kembali !”

***

“ALLAHU AKBAR...ALLAHU AKBAR..”
Kelopakmataku terbuka perlahan. Tubuhku rasnya remuk seperti terinjak-injak. Ingatannku kembali pada papa dan mamaku juga senandung burung kecil itu, semerdu alunan adzan yang membangunkanku dari mimpi tentang syurgaku yang semu.
Kugerakkan tanganku. Ada sesuatu yang tergenggam di pelukanku. Sesuatu yang kurebut dari tangan lelaki itu. dia ustad di daerah tempat tinggalku.  Mungkin malam itu dialah yang menggotong tubuhku yang rebah di pintu.
Kubuka lembaran mushaf itu.
“Sungguh, pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang takut (kepada Allah).” An-Nazi’at:26
Pikiranku terasa terang.
Aku ingin segera keluar kamar. Mungkin Ayah sudah pulang. Dan, Ibu...aku harus menghiburnya.

***

 Nenknonk, 2004.

ini juga cerpen rijek :D

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ITTIHAD & HULUL #makalah

PEMBAHASAN A.     ITTIHAD 1.       Pengertian ittihad kata Ittihad berasal dari kata ittahad-yattahid-ittahad (dari kata wahid) yang berarti kebersatuan. Ittihad menurut Abu Yazid Al Busthami, secara komperhensif maupun etimologis, berarti integrasi, menyatu atau persatuan (unity). Ittihad memiliki arti "bergabung menjadi satu". Paham ini berarti seorang sufi dapat bersatu dengan Allah setelah terlebih dahulu melebur dalam sandaran rohani dan jasmani (fana) untuk kemudian dalam keadaan baqa, bersatu dengan Allah. Ittihād dalam ajaran tasawuf kata Ibrahim Madkur adalah tingkat tertinggi yang dapat dicapai dalam perjalanan jiwa manusia. Menurut Harun Nasution, ittihad adalah satu tingkatan seorang sufi teah merasa dirinya bersatu dengan tuhan, satu tingkatan ketika yang mencintai dan yang dicintai telah menjadi satu, sehingga salah satu dari mereka dapat memanggil yang satu lagi dengan kata-kata, “Hai aku”. Dalam paham ini, seseorang u...

PERADABAN ISLAM PADA MASA KHILAFAH RASHIDAH #makalah

PENDAHULUAN A.     Latar Belakang Melalui sejarah kita dapat menggali masa lalu untuk dikaji ulang. Melalui sejarah juga kita dapat menemukan nilai-nilai yang pasti akan sangat bermanfaat untuk membangun masa depan. Sebab, sejarah merupakan cermin, yang menampilkan kebaikan maupun keburukan yang pernah terjadi di masa lalu. Sehingga dengan bercermin kepadanya, kita dapat senantiasa memperbaiki diri untuk masa yang akan datang. Peradaban manusia tidak pernah lepas dari sejarah. Sebaliknya, ketika mengkaji sejarah, peradaban pun tidak mungkin luput dari pembahasannya. Peradaban manusia berkembang seiring perkembangan akal pikiran manusia itu sendiri. Peradaban tersebut mengalami kemajuan dan juga kemunduran. Namun, dari sekian banyak peradaban yang tercatat dalam sejarah,  Islam pun turut menorehkan jejaknya dan mengambil peranan penting dalam sejarah perkembangan dunia hingga saat ini. Ajaran Islam yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw hadir pada ma...

Pengantar Psikologi Perkembangan #makalah

PENGANTAR PSIKOLOGI PERKEMBANGAN A.     Penegrtian Psikologi dan Psikologi Perkembangan Psikologi berasal dari bahasa yunani, yaitu Psychology. Dari kata “psycho” yang berarti roh, jiwa (daya hidup) dan “logos” berarti ilmu, secara harfiah psikologi berarti “ilmu jiwa”. tetapi psikologi membatasi pada manisfestasi dan ekspresi dari jiwa tersebut yakni berupa tingkah laku dan proses atau kegiatannya, sehingga psikologi dapat dapat di definisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku dan proses mental. Objek kajian Psikologi adalah manusia yang merupakan mahluk individual sekaligus sosial. Maka, objek kajian tersebut berkenaan dengan aktivitas-aktivitas mental manusia dalam interaksi dengan lingkungannya. Psikologi dibedakan menjadi 2 cabang, yaitu Psikologi Teoritis dan Psikologi terapan. Psikologi Teoritis pun dibagi lagi menjadi 2 cabang yaitu Psikologi Umum dan Psikologi Khusus. Sedangkan Psikologi perkembangan itu sendiri merupakan bagian d...