Turun dari kendaraan mewah milik keluarga, Nenknonk melangkahkan kakinya di tanah becek sebuah desa. Diantara rombongan keluarga, penampilan Nenknonk Kala itu paling sederhana. Entah karena salah injak atau apalah, tiba tiba air kubangan menciprati pakaiannya. Padahal, ia sedang dalam perjalanan menghadiri sebuah pesta pernikahan.
Ah, biarkan saja. Nenknonk bukanlah tipe orang yang care terhadap penampilan. Jadi, setitik debu atau bahkan seempang kubangan yang mengotori pakaiannya sekalipun tidak akan ia pedulikan. apalagi yang dituju adalahh pernikahan adik sepupunya sendiri. Semua yang datang pastinya keluarga dan kerabat. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. seluruh keluarga sudah sangat tahu mengenai kecuekan nenknonk ini.
Di rumah yang dituju, paman bibi, keponakan dan sepupu sudah berkumpul. Sepertinya rombongan keluarga Nenknonk datang paling akhir ke acara itu. resepsi pernikahan yang sanagt sederhana. Penyelenggaranya adalah sepupu nenknonk dari keluarga yang juga sederhana. Kedatangan keluarga Nenknonk yang bisa dibilang paling 'terhormat' diantara seluruh keluarga pastinya sudah sanagt dinantikan.
Sang tuan rumah langsung menyambut dan mempersilakan semuanya masuk. Nenknonk tidak ingat apa saat itu ia sempat melihat kedua mempelai atau tidak. Yang jelas, begitu mereka masuk, bukan pelaminan indah atau prosesi kebahagian sang mempelai yang terhidang di hadapan. Yang ada justru sesosok tubuh yang terbaring lemah di atas kasur tipis di lantai ruang tamu.
Nenknonk menatap sosok itu haru. Mata tua itu berwarna abu abu. Tatapannya selalu sendu. Nenknonk selalu ingat itu. Saat mereka saling menatap, tidak ada lagi resepsi, keramaian keluarga atau hingar bingar apapun yang mengganggu kehidmatan mereka. semuanya terlupakan begitu saja.
Nenknonk melangkah perlahan mendekatinya. kedua mata itu seolah memanggilnya.
"Mak...." Air mata Nenknonk bercucuran begitu saja. Kerinduan bertahun tahun lamanya seolah terlepas. ia mencium tangan neneknya.
Orang tua itu tidak berkata kata. Ia hanya terus menatapanya. Memendang kerinduan yang sama besarnya. Ia berusaha bangkit pelahan.
Nenknonk mencium kedua pipinya. air mata terus bercucuran. Ia ingin memeluknya, lalu.....
Mata Nenknonk terbuka perlahan lahan. cairan bening melintasi pipi, membasahi bantalnya. Dadanya masih sesak. Ia terus terisak. Ia tak mampu menghentikan air matanya meski pagi telah menghentikan mimpinya. Memisahkan kembali dia dan seseorang yang paling dicintainya.
Hingga dhuha, sedih itu masih terasa. Akhirnya hanya segenggam do'a yang dapat Nenknonk hadiahkan untuk almarhumah emak, neneknya tercinta. Dan, pagi itu juga Nenknonk jatuh sakit. Sakit yang dirasakannya sebagai kasih sayang emak dan Allah tentunya.
Ah, biarkan saja. Nenknonk bukanlah tipe orang yang care terhadap penampilan. Jadi, setitik debu atau bahkan seempang kubangan yang mengotori pakaiannya sekalipun tidak akan ia pedulikan. apalagi yang dituju adalahh pernikahan adik sepupunya sendiri. Semua yang datang pastinya keluarga dan kerabat. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. seluruh keluarga sudah sangat tahu mengenai kecuekan nenknonk ini.
Di rumah yang dituju, paman bibi, keponakan dan sepupu sudah berkumpul. Sepertinya rombongan keluarga Nenknonk datang paling akhir ke acara itu. resepsi pernikahan yang sanagt sederhana. Penyelenggaranya adalah sepupu nenknonk dari keluarga yang juga sederhana. Kedatangan keluarga Nenknonk yang bisa dibilang paling 'terhormat' diantara seluruh keluarga pastinya sudah sanagt dinantikan.
Sang tuan rumah langsung menyambut dan mempersilakan semuanya masuk. Nenknonk tidak ingat apa saat itu ia sempat melihat kedua mempelai atau tidak. Yang jelas, begitu mereka masuk, bukan pelaminan indah atau prosesi kebahagian sang mempelai yang terhidang di hadapan. Yang ada justru sesosok tubuh yang terbaring lemah di atas kasur tipis di lantai ruang tamu.
Nenknonk menatap sosok itu haru. Mata tua itu berwarna abu abu. Tatapannya selalu sendu. Nenknonk selalu ingat itu. Saat mereka saling menatap, tidak ada lagi resepsi, keramaian keluarga atau hingar bingar apapun yang mengganggu kehidmatan mereka. semuanya terlupakan begitu saja.
Nenknonk melangkah perlahan mendekatinya. kedua mata itu seolah memanggilnya.
"Mak...." Air mata Nenknonk bercucuran begitu saja. Kerinduan bertahun tahun lamanya seolah terlepas. ia mencium tangan neneknya.
Orang tua itu tidak berkata kata. Ia hanya terus menatapanya. Memendang kerinduan yang sama besarnya. Ia berusaha bangkit pelahan.
Nenknonk mencium kedua pipinya. air mata terus bercucuran. Ia ingin memeluknya, lalu.....
Mata Nenknonk terbuka perlahan lahan. cairan bening melintasi pipi, membasahi bantalnya. Dadanya masih sesak. Ia terus terisak. Ia tak mampu menghentikan air matanya meski pagi telah menghentikan mimpinya. Memisahkan kembali dia dan seseorang yang paling dicintainya.
Hingga dhuha, sedih itu masih terasa. Akhirnya hanya segenggam do'a yang dapat Nenknonk hadiahkan untuk almarhumah emak, neneknya tercinta. Dan, pagi itu juga Nenknonk jatuh sakit. Sakit yang dirasakannya sebagai kasih sayang emak dan Allah tentunya.
Komentar
Posting Komentar