Langsung ke konten utama

MALAM & REMBULAN (Pulanglah, bang!)



Syam berdiri di geladak kapal, menatap bulan di langit malam. Surat adiknya masih dalam genggaman.
“Pulanglah, bang !”
Kalimat itu, juga malam dan rembulan selalu mengingatkannya pada luka lama. Pada sebuah nama. Laila wulandari.


...Sebagai laki-laki normal, wajar jika abang jatuh cinta padanya. Si Laila wulandari putri pak H. Thohir yang ramah dan santun itu. Bukan Cuma abang, ade dan bunda pun suka padanya. Dia gadis yang rupawan. Putih, mulus, molek, indah dipandang. Dia bidadari di kampung kita.
Jadi, abang sungguh tidak tahu diri menginginkan dia jadi istri. Memang benar abang dan Laila pernah menjalin cinta monyet d masa SMP.tapi, itu dulu. Tepatnya, mungkin ketika si Laila masih belum bisa membedakan yang mana pangeran yang mana kodok. Hehehe...
Maaf, bang, ade cuma bergurau. Bagaimanapun ade tahu pasti, abang lah orang pertama di Riau ini yang paling senang mendengar berita kepulangan Laila. Pujaan abang akan tiba dalam waktu dekat ini. Jadi, demi kebahagiaan abang, kami sekeluarga telah mengatur perjodohan kalian. Abangku si buruk rupa yang baik hati ini akan menjadi orang paling beruntung sedunia karena mendapatkan Laila sang pujaan hatinya.
...Demi Allah baru kali itu ade melihat abang begitu gembira. Hari itu adalah kali pertama abang dan Laila bertemu setelah sekian lama. Sebuah pertemuan yang abang nantikan bertahun-tahun.
...Pesta telah disiapkan, hidangan siap disajikan, pakaian pengantin pun siap dikenakan. Namun, abang tiba-tiba bermuram durja.
Semua orang bertanya-tanya. Pesta pernikahan sunyi senyap. Suara sirene ambulan terdengar jelas dari rumah Laila. Sebuah kabar menyebutkan ia mengalami pendarahan.
Orang-orang pun menuduh abang telah berbuat keji padanya. Tapi, Laila tetap bersikukuh ingin menikah dengan abang. Sementara abang malah berkeras menolak tegas. Seluruh keluarga akhirnya membenci abang. Namun. Abang malh diam tanpa perlawanan, tenggelam dalam kebisuan.
Ade melihat luka di mata abang.
...lima tahun telah berlalu,
“Pulanglah, bang !”


Syam berdiri di haluan kapal menatap bulan yang mengapung di atas lautan. Lautan yang menenggelamkan harapan dan impiannya terhadap sang rembulan. Laila Wulandari. Ia kembali teringat pada suatu malam. Malam sebelum pesta pernikahan.
Seorang pria tak dikenal menemuainya.
“Aku khawatir pada Laila. Karena itulah aku datang.” Tutur lelaki itu, “aku kekasihnya, maaf...Mantan kekasih Laila.
Syam tak bersuara.
“Aku dan Laila tinggal bersama selama 4 tahun ia menempuh pendidikan di Jakarta. Tanpa pernikahan. Pacarnya bukan aku saja. Maka, aku tak merasa perlu bertanggung jawab atas janin yang dikandungnya. Ia melakukan aborsi yang ke-3 kalinya ini sesaat sebelum kepulangannya  ke kampung halaman. Dan, aku datang karena khawatir pada kondisinya. Bagaimanapun kami pernah bersama “
Kisah itu Syam tenggelamkan dalam lautan. Tak seorang pun tahu kecuali dirinya, tuhan dan lelaki tak dikenal itu.


Syam masih berdiri di haluan kapal. Surat adiknya juga masih tergenggam.
“pulanglah, bang !”
Kalimat itu, juga rembulan dan malam masih mengingatkannya pada luka lama. Pada sebuah nama. Laila Wulandari. Sang pujaan hati yang telah mati.



Dedicate to: abang yang ada di tengah lautan

“jangan lupa daratan ya!”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kepada: Para Pejuang Skripsi

To: para pejuang skripsi seantero negeri Skripsi seolah menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian mahasiswa. Padahal, semua tahu kunci untuk membuka pintu kelulusan adalah skripsi. Dalam beberapa kasus, banyak mahasiswa yang tumbang karena kalah dalam pertarungan terakhir mereka ketika bergelut dengan skripsinya. Ada juga yang pantang menyerah dan terus berjibaku menyelesaikan pertarungannya hingga bertahun-tahun belum lulus juga sampai akhirnya dijuluki mahasiswa abadi. Ada apa dengan skripsi? Melalui tulisan ini saya akan mengulas sedikit tentang masalah skripsi sekaligus berbagi tips dan motivasi yang mudah-mudahan bisa menginspirasi. Pertma saya akan membahas tentang kesulitan yang dialami mahasiswa. Masalah klasik para pejuang skripsi tersebut antara lain sebagai berikut: 1. Ngaku aja deh kalau kalian pernah ngalamin yang begini: Mahasiswa: Pak, besok bisa bimbingan? Dosen: *read doang Atau begini: Mahasiswa: Pak, hari ini ada di kampus tidak? Dosen: ada sampai jam 11 ...

rumah kita

ketika lelah, ketika sedih, ketika tidak tahu tempat untuk kembali atau kemana harus menuju, rumah selalu menjadi jawabanmu. yang paling dirindu, itulah rumahmu. tapi ketika rumah bukanlah milikmu, ketika itulah kau merindukan rumah yang baru atau bahkan rumah lamamu. ... suatu hari jika tuhan mengijinkan takdirku bertaut dengan takdirmu, hatimulah yang akan menjadi rumahku. rumah kita akan menghadap ke arah kiblat. di dalamnya ada ruangan untuk sholat. berjanjilah kau akan berdiri di depan, memimpin do'a di sepertiga malam. do'a yang akan aku aamiinkan dari belakang. aku harap rumah kita selalu hangat dengan suguhan kopi kesukaanmu atau seduhan teh kesukaanku. dapur kita akan jadi semacam labolatorium ekperimen resep-resep di bukuku, maka bersiaplah jadi kelinci percobaanku :D enak atau tidak aku yakin kau tahu itu bukan hal yang utama. canda tawa dan cinta, itulah bumbu yang pasti akan paling terasa. syukuri saja apa yang terhidang di meja, ya :) ketika kau tidak ada...

'Tujh main Rabb dikhta hai'

Berembun mataku tiap kali mengingatnya. Seseorang yang menyalakan langit kelabuku dengan warna cahayanya. Sang pemilik senyum matahari. Dan, di saat yang sama mata rembulannya mampu meneduhkan segala penat dan risau. Hitam putih hidupku menjadi berwarna olehnya. Musim gugur dan musim dingin diisinya dengan semi. Dia, lelaki biasa. Jauh lebih biasa dari sekedar biasa. Lebih sederhana dari yang paling sederhana. mengenangnya aku selalu berkaca-kaca.  Peliknya hidupku tak seberat beban yang dipikul bahunya selama puluhan tahun. Dia hanya 'rakyat jelata' yang tak pernah sepintas pun memimpikan jadi raja. Jemarinya yang kasar dan kulitnya yang terbakar, bagiku itu adalah ukiran terindah yang dipahatkan tuhan. Hingga hanya aliran do'a yang bisa kusembahkan seraya mencium tangannya. Tangan yang mulia, seperti kata nabi. Sedikit sekali yang dia miliki. Sedikit sekali dibanding apa-apa yang kumiliki namun luput dari kusyukuri selama ini.  masih banyak mimpi yang belum bisa aku wujud...