Langsung ke konten utama

catatan di balik wawancara #1

Genap seminggu wajah mungil itu mengusik ingatanku. Namanya Mardi, bocah pengamen yang kutemui di perempatan jalan. Dia sudah duduk berada di sana saat aku menyantroni 'kakaknya' untuk diajak wawancara. Tatapannya adalah tatapan anak kecil biasa, yang manja, yang menyimpan harap, yang penasaran, yang malu dan yang ragu-ragu. Suaranya pelan sekali saat menyebutkan nama. Dan, dia hanya tersenyum malu-malu saat ditanya.

Kemudian, ada seorang anak lagi yang mengahampiri. Tanpa disangka dia mencium tanganku seperti kepada seseorang yang dihormati. Sikapnya menunjukan karakter anak yang tegar. Senyumnya terkembang lebar. Dia tampak ceria. Seolah jalanan bukanlah sebuah kesulitan bagi hidupnya. Namanya Arya. Sayang, dia hanya sekejap berada di situ. Dia tidak sempat mengorol denganku karena bus berpenumpang penuh yang melaju di perempatan itu seolah memerinya aba-aba start lari cepat berhadiah rupiah. Anak kecil itu berlari secepat kilat. Dia seolah tahu benar bahwa hidup harus diperjuangkan dengan kesungguhan. Demi gemerincing recehan yang mungkin bisa menyuapinya makan, dia tidak menghiraukan laju kendaraan dan angin malam.

Aku menyudahi wawancara malam itu tanpa meninggalkan sepeserpun rupiah bagi mereka. Namun, mereka meninggalkan 'jejak'-nya dalam ingatanku. Sama seperti ketika cahaya tak terkikis gerimis di sebuah sore beberapa tahun lalu (baca Memorable of Journey. sekalian promosi. xixixi)

Malam itu, sepulang wawancara, aku naik kendaraan umum dan berusaha bersikap biasa, sewajar yang aku bisa. tapi, air mata rupanya menerobos pelupuk mata tanpa disadari kapan bermula. wajah-wajah mereka seperti cermin bagiku. Di sana kulihat wajahku. wajah seorang anak kecil yang fafa. Karena keluarga mereka jadi sengsara tetapi, jika bukan karena 'keluarga' akupun pasti seperti mereka. Hidup terlunta-lunta tanpa pernah mengenal bangku sekolah. Dan, Allah tahu, jika nasib itu benar-benar menimpa, aku mungkin tidak mampu setegar mereka.

Betapa aku beruntung mengecap hidup yang 'lebih' daripada semestinya. aku tidak bisa membayangkan jika harus bernafas tanpa pendidikan dan setiap hari bergelut dengan hidup yang tanpa pilihan. hanya ada kata 'harus' dan 'demi'. hidup seperti itu tentu sulit dan berat sekali.

Bukankah kita hanya ingat pada diri sendiri dan sering melupakan atau tidak menghiraukan nasib orang lain? Ya. Benar. Kebanyakan dari kita memang egois. Di mata kita mereka seolah kasat. Jikapun tidak, mereka mungkin layaknya debu yang dianggap mencemari udara yang kita hirup. Padahal, bumi dan langit serta dunia ini bukan milik kita sendiri. Alam ini tercipta untuk ditempati dan saling berbagi. bukannya saling beradu eksistensi, merasa diri jadi yang paling menguasai. Jadi yang paling hakiki. Yang paling suci. Sementara yang lain dianggap kotoran dan harus disingkirkan. Dianggap gangguan bagi kenyamanan. dan, semua tuduhan itu harus menjadi benar meskipun tidak berdasar.

Malam itu, kita semua salah telah menaruh prasangka paling busuk di dada anak-anak jalanan itu. Ketika wawancara usai, aku bersiap hendak memasukkan buku cacatan ke dalam tas. Aku kaget melihat resleting tasku ternyata tidak tertutup. Hm...menilik sedekat apa aku duduk dengan mardi dan seniornya barusan, membuatku sedikit was-was. Tapi pikiran buruk itu kusembunyikan. Di dalam kendaraan, barulah aku mulai memeriksa semuanya, khawatir ada yang hilang. tempat makan dan minum masih lengkap beserta seluruh sisa isinya. uang jajan yang aku taruh di saku juga utuh. dompet keringku pun baik-baik saja. semuanya aman. Dan aku mulai menangis lagi atas kejadian ini. sepanjang wawancara banyak anak jalanan yang mengitari tempat aku duduk. Selama itu pula resleting tasku terbuka lebar-lebar. Dan, aku tidak lagi kuasa menyeka air mata saat mengingat dan menyadari dengan sesadar-sadarnya bahwa aku mungkin saja kehilangan sesuatu yang berharga, yang aku perjuangkan selama sebulan penuh dari pagi hingga petang di setiap harinya. Ya, hari wawancara ini bertepatan dengan hari gajian. Dan, amplop gaji itu tergeletak begitu saja di dalam tas tanpa perlindungan. tetapi tidak ada satu tangan pun, yang biasanya dipandang sebagai gangguan itu, yang menyentuhnya. Dan, tidak sepeser rupiah pun yang aku rodoh dari dalam amplop tersebut untuk mereka. Aku sungguh tega!

Begitulah, sehingga di atas kendaraan umum, aku berlinang air mata. Bercengkrama dengan haru dan kepedihan mereka. Hingga kuhadirkan mereka dalam do'a. Semoga Allah senantiasa melindungi mereka dan membukakan jalan bagi mereka untuk meraih masa depan yang cerah. aamiin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ITTIHAD & HULUL #makalah

PEMBAHASAN A.     ITTIHAD 1.       Pengertian ittihad kata Ittihad berasal dari kata ittahad-yattahid-ittahad (dari kata wahid) yang berarti kebersatuan. Ittihad menurut Abu Yazid Al Busthami, secara komperhensif maupun etimologis, berarti integrasi, menyatu atau persatuan (unity). Ittihad memiliki arti "bergabung menjadi satu". Paham ini berarti seorang sufi dapat bersatu dengan Allah setelah terlebih dahulu melebur dalam sandaran rohani dan jasmani (fana) untuk kemudian dalam keadaan baqa, bersatu dengan Allah. Ittihād dalam ajaran tasawuf kata Ibrahim Madkur adalah tingkat tertinggi yang dapat dicapai dalam perjalanan jiwa manusia. Menurut Harun Nasution, ittihad adalah satu tingkatan seorang sufi teah merasa dirinya bersatu dengan tuhan, satu tingkatan ketika yang mencintai dan yang dicintai telah menjadi satu, sehingga salah satu dari mereka dapat memanggil yang satu lagi dengan kata-kata, “Hai aku”. Dalam paham ini, seseorang u...

Kepada: Para Pejuang Skripsi

To: para pejuang skripsi seantero negeri Skripsi seolah menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian mahasiswa. Padahal, semua tahu kunci untuk membuka pintu kelulusan adalah skripsi. Dalam beberapa kasus, banyak mahasiswa yang tumbang karena kalah dalam pertarungan terakhir mereka ketika bergelut dengan skripsinya. Ada juga yang pantang menyerah dan terus berjibaku menyelesaikan pertarungannya hingga bertahun-tahun belum lulus juga sampai akhirnya dijuluki mahasiswa abadi. Ada apa dengan skripsi? Melalui tulisan ini saya akan mengulas sedikit tentang masalah skripsi sekaligus berbagi tips dan motivasi yang mudah-mudahan bisa menginspirasi. Pertma saya akan membahas tentang kesulitan yang dialami mahasiswa. Masalah klasik para pejuang skripsi tersebut antara lain sebagai berikut: 1. Ngaku aja deh kalau kalian pernah ngalamin yang begini: Mahasiswa: Pak, besok bisa bimbingan? Dosen: *read doang Atau begini: Mahasiswa: Pak, hari ini ada di kampus tidak? Dosen: ada sampai jam 11 ...

'Tujh main Rabb dikhta hai'

Berembun mataku tiap kali mengingatnya. Seseorang yang menyalakan langit kelabuku dengan warna cahayanya. Sang pemilik senyum matahari. Dan, di saat yang sama mata rembulannya mampu meneduhkan segala penat dan risau. Hitam putih hidupku menjadi berwarna olehnya. Musim gugur dan musim dingin diisinya dengan semi. Dia, lelaki biasa. Jauh lebih biasa dari sekedar biasa. Lebih sederhana dari yang paling sederhana. mengenangnya aku selalu berkaca-kaca.  Peliknya hidupku tak seberat beban yang dipikul bahunya selama puluhan tahun. Dia hanya 'rakyat jelata' yang tak pernah sepintas pun memimpikan jadi raja. Jemarinya yang kasar dan kulitnya yang terbakar, bagiku itu adalah ukiran terindah yang dipahatkan tuhan. Hingga hanya aliran do'a yang bisa kusembahkan seraya mencium tangannya. Tangan yang mulia, seperti kata nabi. Sedikit sekali yang dia miliki. Sedikit sekali dibanding apa-apa yang kumiliki namun luput dari kusyukuri selama ini.  masih banyak mimpi yang belum bisa aku wujud...