Langsung ke konten utama

kenang kunang-kunang

Tuan kunang-kunang, seharian aku bagai sakit kepala. 
Kau menitari pikiranku seperti kemidi putar di pasar malam. 

Yah, kubiarkan saja kau bermain di sana, menggelitiki ingatanku yang begitu rapuh. 
Berharap aku jatuh? 
Tunggu dulu! 
Kau bahkan belum bisa menemukanku pada permainan petak umpet minggu lalu. 

Dan, aku terkikik di atas gerigi pemutar detik 
kapan waktuku bisa sampai padamu, wahai tuan nokturnal? 

Lalu, aku tertawa. 
Sepertinya aku gila. 
Tidak. 
Sepertinya aku cinta. 
Tidak. 
Sepertinya aku suka. 
Tidak. 
Hanya rindu saja. 

Kulihat kau tidak bergeming. 
Masih mengorbit di kepalaku yang sedang pusing. 

Teruslah begitu! 
Supaya aku bisa terkiki, tertawa, bahkan berurai air mata. 
Toh, aku sadar, aku bisa gila. 
Bisa cinta. 
Bisa suka. 
Atau, rindu saja. 

Terima kasih, Tuan. 
Saat langit tak gemintang atau merembulan, 
kau berkerlip jenaka 
dalam ilusiku semata 

aku tahu kau fatamorgana 
Tapi, tak apa lah... 
dengan begitupun aku sudah bahagia 

teruslah berputar, berpendar, memusingkan kepada 
hingga kau menjadi abstrak tak terkata. 

Pwk, 201113. 
Tayana Mian 

Komentar