Langsung ke konten utama

Guru

Belasan tahun lalu, ada satu keinginan yang tak kunjung padam dalam benakku. Keingan itu terwujud beberapa tahun lalu, tepatnya 14 September 2013.  Itulah hari dimana aku resmi menyandang gelar mahasiswa.

Sebagai non-fresh graduated bahkan cenderung 'expired', aku beruntung bisa menyelesaikan kuliah di jurusan PAI.

Kini, ada satu harapan yang rasanya seperti sama persis denang keinginan ku yang belasan tahun lalu itu. Jika dulu aku ingin kuliah, maka sekarang aku ingin jadi guru.

Iri rasanya melihat teman-teman satu almamater sudah bertebaran di berbagai jenjang sekolah, mengisi kelas-kelas.  Lepas dari itu honorer, K2, atau PNS. Mereka adalah guru.

Menjadi guru adalah cita-citaku di mada kecil. Sempat pudar ketika menginjak SMK. Namun, ingatan tentang 'ingin jadi guru' itu tak pernah lekang.

Meski begitu, bukan itu alasanku mendaftar kuliah ke fakultas tarbiyyah di ambang kepala 3. Suatu hari, teman sekelasku bertanya, untuk apa aku kuliah, padahal kerjaanku sudah mapan (aku kerja di pabrik dengan gaji jutaan saat itu, kerja dan kuliah).

Aku bilang, "Aku tidak mengejar gelar atau menargetkan untuk jadi guru PNS. Aku lebih menginginkan untuk mendapat ilmu. Agama dan pendidikan. Itu bisa jadi bekalku untuk 'pergi' ke manapun dan menjadi apapun. Soal jadi guru, tak perlu di sekolah. Jadi guru bisa di mana saja. Aku lebih ingin mendidik diriku sendiri, menjadi guru buat anak-anakku kelak."

Jika ingat itu, sekarang aku sungguh merasa ditampar. Di satu sisi, aku iri pada teman-teman yang sudah jadi guru. Nyatanya, aku masih punya keinginan untuk 'masuk kelas' lagi. Sementara di sisi lain, aku merasa tidak mampu jadi guru. Tidak mampu bahkan tidak pantas dan rasanya aku memang tidak berbakat jadi guru 😄

Mungkin menjadi guru hanya akan tetap sebuah cita-cita belaka. Jika takdir berkehendak, entah di tahun keberapa aku akan bisa mewujudkannya. Sama halnya seperti keinginanku untuk kuliah yang baru bisa terwujud setelah 9 tahun lulus SMK.

Jika menjadi guru di lembaga pendidikan formal tak terwujud, aku harap aku bisa jadi guru terbaik bagi anakku.

...

Pwk, April 2019. 11:15 PM



Komentar

Postingan populer dari blog ini

ITTIHAD & HULUL #makalah

PEMBAHASAN A.     ITTIHAD 1.       Pengertian ittihad kata Ittihad berasal dari kata ittahad-yattahid-ittahad (dari kata wahid) yang berarti kebersatuan. Ittihad menurut Abu Yazid Al Busthami, secara komperhensif maupun etimologis, berarti integrasi, menyatu atau persatuan (unity). Ittihad memiliki arti "bergabung menjadi satu". Paham ini berarti seorang sufi dapat bersatu dengan Allah setelah terlebih dahulu melebur dalam sandaran rohani dan jasmani (fana) untuk kemudian dalam keadaan baqa, bersatu dengan Allah. Ittihād dalam ajaran tasawuf kata Ibrahim Madkur adalah tingkat tertinggi yang dapat dicapai dalam perjalanan jiwa manusia. Menurut Harun Nasution, ittihad adalah satu tingkatan seorang sufi teah merasa dirinya bersatu dengan tuhan, satu tingkatan ketika yang mencintai dan yang dicintai telah menjadi satu, sehingga salah satu dari mereka dapat memanggil yang satu lagi dengan kata-kata, “Hai aku”. Dalam paham ini, seseorang u...

PERADABAN ISLAM PADA MASA KHILAFAH RASHIDAH #makalah

PENDAHULUAN A.     Latar Belakang Melalui sejarah kita dapat menggali masa lalu untuk dikaji ulang. Melalui sejarah juga kita dapat menemukan nilai-nilai yang pasti akan sangat bermanfaat untuk membangun masa depan. Sebab, sejarah merupakan cermin, yang menampilkan kebaikan maupun keburukan yang pernah terjadi di masa lalu. Sehingga dengan bercermin kepadanya, kita dapat senantiasa memperbaiki diri untuk masa yang akan datang. Peradaban manusia tidak pernah lepas dari sejarah. Sebaliknya, ketika mengkaji sejarah, peradaban pun tidak mungkin luput dari pembahasannya. Peradaban manusia berkembang seiring perkembangan akal pikiran manusia itu sendiri. Peradaban tersebut mengalami kemajuan dan juga kemunduran. Namun, dari sekian banyak peradaban yang tercatat dalam sejarah,  Islam pun turut menorehkan jejaknya dan mengambil peranan penting dalam sejarah perkembangan dunia hingga saat ini. Ajaran Islam yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw hadir pada ma...

'Tujh main Rabb dikhta hai'

Berembun mataku tiap kali mengingatnya. Seseorang yang menyalakan langit kelabuku dengan warna cahayanya. Sang pemilik senyum matahari. Dan, di saat yang sama mata rembulannya mampu meneduhkan segala penat dan risau. Hitam putih hidupku menjadi berwarna olehnya. Musim gugur dan musim dingin diisinya dengan semi. Dia, lelaki biasa. Jauh lebih biasa dari sekedar biasa. Lebih sederhana dari yang paling sederhana. mengenangnya aku selalu berkaca-kaca.  Peliknya hidupku tak seberat beban yang dipikul bahunya selama puluhan tahun. Dia hanya 'rakyat jelata' yang tak pernah sepintas pun memimpikan jadi raja. Jemarinya yang kasar dan kulitnya yang terbakar, bagiku itu adalah ukiran terindah yang dipahatkan tuhan. Hingga hanya aliran do'a yang bisa kusembahkan seraya mencium tangannya. Tangan yang mulia, seperti kata nabi. Sedikit sekali yang dia miliki. Sedikit sekali dibanding apa-apa yang kumiliki namun luput dari kusyukuri selama ini.  masih banyak mimpi yang belum bisa aku wujud...